Harry Tjan Silalahi


“ Pengalaman cairnya kelompok kelompok orang-orang muda ini untuk bergabung dalam satu peguyuban FSAB dapat dijadikan sebagai suatu sumbangan konsep rekonsiliasi untuk mengatasi masalah tersebut, meskipun masih perlu lebih giat disosialisasikan agar dapat segera diaktualisasikan “

Sulastomo


“Langkah anak-anak eks Darul Islam, anak-anak Pahlawan Revolusi, dan juga anak-anak eks PKI yang terhimpun dalam satu organisasi nerupakan pendekatan budayapenyelesaian pelanggaran HAM yang dipelopori anak-anak kita. Dengan pendekatan budaya seperti ini dendam sesame warga bangsa dengan sendirinya terkubur. Sebaliknya minta maaf pada salah satu golongan saja lebih politis terhingga masih meningglkan implikasi politik. Pendekatan budaya justru akan lebih memperkukuh upaya rekonsiliasi nasional”

Adnan Buyung Nasution


“Hal yang mereka lakukan ini menjadi penting , yakni membuka pemahaman yang lebih luhur dan mulia mengenai Hak Asasi Manusia. Kalau dulu orang tua kita membuat kesalahan atau kekhilafan, bahkan konflik yang menimbulkan permusuhan dan peperangan, sekarang sudah harus dibentuk suatu kehidupan politik dimana pendirian apa pun yang dianut oleh anak bangsa ini, tetap harus mengedapankan saling menghormati, jangan lagi yang satu mengeliminir yang lain, apalagi sampai membunuh “

Salahuddin Wahid


“Upaya mewujudkan rekonsiliasi bias lebih berarti dengan adanya FSAB yang didalamnya terdiri dari putra putri para tokoh yang selama ini berkonflik. Bersatu dan bekerja samanya mereka diharapkan bias menghilangkan saling curiga yang bias menjadi awal yang baik bagi bangsa kedepan

Ahmad Syafei Maarif


“ Bagi saya lahirnya FSAB menjadi penting bila dilihat dari persfektif upaya rekonsiliasi bangsa yang justru dating dari bawah, mudah mudah an sama-sama dilandasi oleh niat tulus untuk memaafkan masa lampau, sekalipun tidak perlu selalu dilupakan

AM Hendropriyono


"Saya mengharapkan FSAB dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang saat ini rawan konflik dengan menyebarkan semangat silahturahmi dan berdialog menghadapi perbedaan dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945 “ .

Taufik Kemas


Motto FSAB “Berhenti mewariskan kondan tida membuat konflik baru” lebih besar dari “ To Forgive but not Forget” nya Nelson Mandela. Karena konflik di Afrika Selatan hanya antara 2 pihak , sedangkan di Indonesia antara berbagai pihak atau Multi konflik