Kilas Balik Forum Silaturahmi Anak Bangsa: Sejarah yang Menyentuh

fsablogoretina
Pernyataan Sikap Kebangsaan FSAB 2020
26/04/2020
FSAB  WhatsApp Image 2020 10 20 at 05.31.48
Revilitasi FSAB. Ciawi. 14 -15 Januari 2020
26/04/2020

Kilas Balik Forum Silaturahmi Anak Bangsa: Sejarah yang Menyentuh

FSAB  FSAB
“Berhenti mewariskan konflik, tidak membuat konflik baru”

 

Pernahkah membayangkan kedua orang tua kita saling membunuh karena perbedaan ideologi, saling bermusuhan karena situasi politik ? Sejarah kelam republik ini telah menggoreskan luka begitu dalam bagi orang-orang yang terlibat.

 

Sebut saja, tragedi 30 September 1965, pemberontakan DI/TII, pemberontakan PRRI/Permesta, Gerakan Aceh Merdeka, dan lain-lain. Perasaan terhina, dendam, benci, takut, menjadi pergumulan setiap pribadi. Beberapa orang di antaranya mengalami trauma psikologis. Pertanyaan pun berseliweran di kepala. Pihak yang orangtuanya dibunuh penasaran bagaimana caranya dibunuh? Oleh siapa? Sementara pihak yang tertuduh menjadi pembunuh juga penasaran, benarkah orangtuanya menjadi otak pembunuhan itu?

 

Lao Tzu, filsuf termasyur dari Tiongkok mengatakan jika seseorang ingin berada dalam batin yang damai, maka dia hidup di saat ini. Sebaliknya jika dia terus memelihara kesedihan, dia hidup di masa lampau. Apa yang dikatakan Lao Tzu telah menembus batin anak-anak korban konflik dari berbagai lini di Indonesia.  Mereka tidak ingin ”tertawan” oleh konflik masa lalu.

 

Gerakan moral ini diawali dari panggilan jiwa anak-anak Pejuang yang gundah gulana bahwa bangsa Indonesia berada dalam bahaya perpecahan bila masih berada dalam ”tawanan” konflik masa lalu, yang menjadi seperti api dalam sekam yang setiap saat mudah terbakar. Maka sekitar tahun 2000 dilakukan “gerilya perdamaian” dengan menghubungi anak-anak yang masih ”dikuasai” perasaan dendam dan mudah dibakar emosinya, agar mau duduk bersama dengan anak-anak dari pihak yang ”berseberangan”.

 

Tidak mudah mengajak pihak-pihak yang “berseberangan” untuk mau duduk bersama dan berdialog. Ada yang hingga beberapa kali diundang baru bersedia datang, ada yang masih terus menolak. Namun dengan kesabaran dan itikad untuk bersamasama ”menghapus luka lama” dan saling ”menghilangkan dendam”, mereka yang sudah mau duduk bersama dan berdialog bersepakat untuk membentuk wadah yang dinamakan “Forum Silaturahmi Anak Bangsa” (FSAB) dengan motto “Berhenti Mewariskan Konflik, Tidak Membuat Konflik Baru”.

 

Secara perlahan selama sepuluh tahun, telah terjalin suatu ikatan ”persaudaraan” di antara anggota FSAB, yang sama-sama menginginkan agar di masa mendatang bangsa Indonesia tidak perlu lagi mengalami konflik dan pertumpahan darah seperti  yang sudah sering terjadi. Akibatnya sudah dialami dan dirasakan oleh mereka dan keluarganya, yaitu penderitaan yang  sangat pedih. Perdamaian dan persaudaraan hanya mungkin terjadi karena adanya ”jiwa besar” dari mereka yang dulu  ”saling berseberangan” yang kemudian mau melepaskan ego masing-masing dan mengikis habis ”hasrat untuk saling membalas dendam”.

 

Walaupun tidak dimaksudkan menjadi organisasi yang eksklusif, tetapi tidak bisa dihindari bahwa keunikan FSAB membawa kesan “tertutup” disebabkan karena kehati-hatian dalam melangkah. Mengapa FSAB unik?  Karena FSAB didirikan oleh orang-orang yang boleh dibilang paling punya alasan untuk bermusuhan dan saling mendendam. Karena orangtua mereka dahulu berada dalam posisi yang berseberangan, baik karena perbedaan ideologi secara langsung maupun karena dipaksa oleh kondisi politik, sehingga menimbulkan korban jiwa dan luka yang mendalam.

Agar dinamika pembentukan FSAB dan pergulatan pemikiran dalam diskusi dan debat di antara anggotanya selama satu dasawarsa dapat diketahui masyarakat luas, maka ditulis buku yang diberi judul “The Children of War” yang diambil dari ucapan Tina Harun Kabier eksponen tertua di FSAB, yang diperuntukkan bagi para anak cucu korban konflik yang bergabungdi dalam FSAB. Tim Penyusun: Nina Pane, Stella Warouw, dan Bernada Triwara Rurit, dengan nara sumber dari anggota FSAB dan tokoh masyarakat yang mengenal FSAB. Di dalam buku ini juga dipaparkan tantangan dan kendala yang dihadapi FSAB, serta apa yang menjadi harapan FSAB di masa depan.

Menyongsong terbitnya buku ini pada akhir Juni mendatang oleh Penerbit Buku Kompas (PBK), berikut bisa disimak beberapa cuplikan dari isi buku “The Children of War”.

 

Pertemuan Anak Jenderal Berseberangan

Sebelum memutuskan bertemu dengan Nani Nurrachman (anak Pahlawan Revolusi Mayjen TNI (Anumerta) Sutojo Siswomihardjo), Sugiarto (anak Supardjo, yang sering disebut sebagai “Jenderal Merah”) merasa perlu berdiskusi dulu dengan orang yang dianggapnya senior yaitu Hardoyo, mantan Ketua CGMI/Ketua Presidium Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), Universitas Gajah Mada (UGM). Kebetulan Hardoyo sudah membaca tulisan Nani Nurrachman di koran Tempo. Haroyo memberikan lampu hijau kepada Sugiarto. “Ibu Nani orang yang baik dan bijaksana,” katanya.

Nani Nurrachman memberikan respons positif. “Baiklah, saya bersedia bergabung. Kita menjadi bangsa yang kalah karena takut menatap bayangannya sendiri, dengan tidak berani menyelesaikan masalahnya,” katanya.

Doktor ilmu psikologi lulusan Universitas Indonesia Nani Nurrachman menikah dengan Nurrachman Oerip, diplomat yang karier puncaknya sebagai Duta Besar RI di Kamboja. Media massa kerap memberitakan sosok Nani Nurrachman “sudah berdamai dengan konflik masa lalu”, hal yang dinilai oleh berbagai pihak luar biasa. Sepulang dari Amerika tahun 1986, anaknya, Nano, berumur 8 tahun, menyaksikan film G30S yang waktu itu diputar setiap tahun. Usai menonton ia bertanya, “Ma, what is a communist? Was it them who killed Eyang Toyo?”  Nani terhenyak. Pikirannya berputar mencari jawaban secara arif dan tepat yang dapat memuaskan anak berusia 8 tahun, tapi tak berhasil.

”Terus terang saya katakan kepada anak saya, pertanyaan itu sukar dijawab dan saya berjanji suatu waktu  akan saya jawab,” kata Nani.

”Bagaimana saya bisa menjawab bila belum selesai dengan gejolak perasaan dan pergulatan batin yang masih berlangsung?

Jika saya bisa menjawab dengan baik, dan kesempatan itu saya akui terbuka bagi saya yang termasuk golongan yang menang, kelompok yang benar, lalu bagaimana saya bisa menjawab bila saya meletakkan diri dalam posisi ibu-ibu yang kedudukannya berlawanan? Bisakah saya menjawab dengan mudah? Tentu tidak! Di sini pengakuan dan penghargaan saya terhadap ibu-ibu dari kedudukan yang berlawanan mulai berkembang: daya tahan, kemauan, kesabaran mereka mengarungi kehidupan pasca tragedi. Saya menyadari bahwa kepahlawanan tidak diturunkan sebagaimana kesalahan atau dosa politik orangtua tidak diwariskan. Allah SWT tidak demikian mudahnya menentukan suratan takdir manusia ciptaannya.”

 

Perbedaan Bukan Musuh

“Upaya-upaya untuk melakukan rehabilitasi atau dipulihkannya hak-hak sipil terhadap para korban Peristiwa 1965 dibahas di Selasaan,” kata Ashoka Siahaan dosen ilmu filsafat (anak Mayjen TNI Ricardo Siahaan). “Kalau di antara mereka ada yang ingin mendominasi dan menonjol, atau berani tampil dan ingin eksis, atau ada yang bersuara keras, wajar sajalah, tidak ada masalah. Namanya juga kran demokrasi baru dibuka di era reformasi. Bangsa kita seperti mengalami euforia. Yang penting kita jangan menganggap perbedaan sebagai musuh. Itu komitmen awal kita sebagai bangsa yang majemuk.”

Tigor Siregar, mantan Wakil Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) periode 1980-1990 mengatakan pula, “Kita sudah tidak ada waktu untuk bertengkar dan berdebat, sudah capek. Sebaiknya kita berdamai, dan waktunya adalah sekarang, jangan saling menyalahkan lagi, jangan terpecah belah lagi. Persatuan sangat penting. Membangun Indonesia modalnya hanya persatuan, kalau persatuan rusak maka akan hancur Negara ini.” PPM adalah organisasi anak-anak veteran.

Dengan sikap politik yang matang Denny Alamsyah menjadi salah seorang pembuka jalan bagi terwujudnya ide yang berujung pada pembentukan FSAB. Anak ketiga Letjen (Purn) H. Alamsyah Ratu Prawiranegara ini beruntung karena ayahnya tidak termasuk dalam deretan daftar korban G30S yang menewaskan para jenderal.  “Ayah saya tidak dibunuh bersama teman-temannya para jenderal pada kejadian G30S, padahal menurut teori ayah saya seharusnya sudah wafat juga,”  ujar Denny.

Ide yang digagas oleh Tigor Siregar, Suhardi Nurdin, dan Denny Alamsyah untuk mempertemukan anak-anak korban konflik disambut dengan baik oleh Joesoef Faisal (mantan Ketua PPM 1980-1990). Joesoef segera menggamit Sugiarto, anak ”Jenderal Merah” yang selama ini menjadi sahabatnya secara rahasia. Situasi politik waktu itu menyalakan ”lampu merah” bagi dua anak manusia yang orangtuanya berada di garis politik yang berlawanan.

Gagasan ini ditindaklanjuti secara kongkret oleh Ketua Umum PPM saat itu yaitu Djoko Purwongemboro dan Ketua 1 PPM Suryo Susilo. Suryo Susilo, putra Kolonel R. Ngaeran, mengajak Perry Omar Dani sahabatnya sejak kecil yang terpaksa dirahasiakan ketika sejarah memvonis mereka sebagai anak-anak dari pihak yang berlawanan. Perry mengaku, tujuan teman-temannya mengumpulkan mereka yang tadinya tidak bersahabat karena berbeda pendirian dan berbeda filsafat dari kubu yang berbeda-beda, sunggah menggugah hatinya.

 

Bola Salju Perdamaian Digulirkan

Joesoef Faisal kenal baik dengan Ghazi Hussien-Yoesoef yang kemudian membawa Ahmad Zahedi, cucu Daud Beureuh dari pihak ibu untuk diperkenalkan kepada Joesoef. Ayah Zahedi adalah Brigjen Moehammadiyah Haji Bin Tengku Hadjidigaroet. Tapi pagi-pagi Zahedi sudah memberikan syarat yang membuat Joesoef bermuram durja. “Saya mau dipertemukan dengan anak keturunan tokoh pemberontak manapun tapi tidak dengan anak keturunan PKI,” tegasnya. Kata-kata cucu Daud Beureuh ini menunjukkan betapa berat medan yang harus ditempuh untuk merealisasikan gagasan mempertemukan anak cucu korban konflik di masa lalu. Tapi niat untuk terus berusaha sama sekali tak surut, karena kendala seperti ini memang sudah diperkirakan sebelumnya. Belakangan Zahedi menjadi pendukung yang antusias terhadap keberadaan forum ini.

Tigor Siregar berhasil membawa Sarjono Kartosuwiryo putra Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, Imam Besar DI/TII melalui sahabatnya Budi Dede Wiramihardja, putra Wiramihardja, Wakil Panglima DI/TII. Tigor (anak TNI) sejak kecil bersahabat dengan Budi (anak DI/TII) dan Syamsudin (anak tokoh PKI di Tasikmalaya). Baginya bukan sesuatu yang asing untuk tetap mempertahankan persahabatan meskipun orangtua berbeda ideologi.

Sardjono Kartosuwiryo menyambut gembira gagasan untuk mempertemukan anak-anak korban konflik dari segala lini. Kata Kang Jono demikian panggilan akrabnya, “Semua anggota forum ini produk masa lalu. Di masa lalu orangtua pernah bertengkar karena perbedaan ideologi yang pada pokoknya terbagi dalam tiga kelompok besar, yakni nasionalisme, sosialisme, dan Islam. Pada pertarungan di masa lalu itu ketiga kelompok ideologi bersaing dan nasionalisme memenangkan pertarungan.

Sosialisme dan Islam tidak mendapat dukungan yang cukup dari masyarakat untuk memimpin bangsa ini. Sekarang anak-anaknya berkumpul dalam satu wadah dan memikirkan kepentingan bersama, sesuatu yang jarang ada dan mungkin satu-satunya di dunia.”

Tigor juga menemui Eko Tjokrodjojo yang dikenalnya pada acara “Selasaan” di tempat Ashoka Siahaan. Pada era 1960-an, Eko kuliah di Universitas Trisakti dan bergabung dalam PMKRI. Ketika itu di kampusnya kelompok CGMI sebagai onderbouw PKI sangat berkuasa. Singkat kata pada masa itu yang mencuat adalah kelompok yang atheis dan non-atheis. Eko langsung mendukung ide perdamaian. Ia yang berasal dari etnis keturunan Cina mengajak Ridwan Soeriyadi dari etnis yang sama dan tertarik dengan ide serta gagasan Denny Alamsyah. “Ketika itu sedang hangat-hangatnya reformasi. Saya tahu Denny, teman saya semasa SD, punya kepedulian yang tinggi terhadap masalah kemasyarakatan dan pertikaian politik. Saya sendiri tidak termasuk orang yang menjadi korban konflik. Tapi menyaksikan huru hara pada hari Rabu di bulan Mei 1998 yang tragis, hati saya tergores dan terusik. Walaupun bukan berarti saya harus melakukan aksi permusuhan.”

 

Mencari “Payung” pada Jenderal TNI

Setelah pendukung dianggap sudah cukup banyak, mereka bersepakat akan lebih baik jika memberitahukan gagasannya kepada Markas Besar ABRI, untuk menghindari salah persepsi dari pihak militer, sekaligus agar dapat dijadikan “payung” bagi keberadaan mereka.

Tujuan pertama mereka yaitu menemui Kepala Staf Teritorial TNI (Kaster) Letjen TNI Agus Widjojo, putra Pahlawan Revolusi Mayjen TNI (anumerta) Sutojo Siswomihardjo. Pertemuan bersejarah itu pun terjadi. Bertempat di Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan, Agus Widjojo hadir bersama dua asistennya berpangkat Mayor Jenderal. Dari para penggagas hadir Denny Alamsyah, Joesoef Faisal, Tigor Siregar, Suwardi Nurdin, Djoko Purwongemboro, Suryo Susilo, Eko Tjokrodjojo, dan Ridwan Soeriyadi.

Hal terberat dalam pertemuan itu adalah menyampaikan gagasan tersebut kepada seorang putera martir bangsa Indonesia yang kebetulan seorang petinggi militer, Jenderal bintang tiga yang tampak angker pula. “Tidak ada yang berani mengemukakan ide ini kepada Mas Agus, takut ditolak.

Takutnya beliau mengatakan, “Yang dibunuh itu Bapak saya, yang sakit hati itu saya, bukan kalian”, jadi kami sungkan sekali. Tapi kami memberanikan diri,” demikian kata para pembawa gagasan.

Di luar perkiraan semua yang hadir, Agus Widjojo dapat menerima dan mendukung sepenuhnya gagasan tersebut, bahkan mengentalkan esensi dari gagasan yang sudah ada dengan beberapa pemikiran. Menurut Agus Widjojo, Indonesia sudah memasuki era reformasi untuk segera bisa memandang ke masa depan di mana pada masa lalunya terdapat konflik-konflik yang telah menyisakan bangsa ini di dalam kotak-kotak. Kotak-kotak itu mengandung keberpihakan dan saling menyalahkan satu sama lain.

“Merupakan kenyataan sejarah tentang terjadinya konflik di antara bangsa kita sendiri yang kebanyakan telah menjadi konflik bersenjata dan memakan korban di salah satu pihak serta meninggalkan rasa dendam. Kriteria konflik seperti itulah yang perlu ditemukan rumusan solusinya agar perasaan-perasaan yang mengotak-kotakkan bangsa ini tidak tinggal atau hadir secara berkepanjangan yang menghambat bangsa kita untuk membangun menuju ke masa depan,” katanya.

 

Seperti Mengumpulkan Puzzle yang Terserak

Demikianlah setiap pribadi tergerak hatinya untuk mengumpulkan para anak cucu korban konflik. Ada Masya Panjaitan, Putri Pahlawan Revolusi Mayjen TNI (anumerta) D.I. Pandjaitan, yang sejak awal sangat bersemangat membela forum ini di mata berbagai pihak yang mempertanyakan maksud dan tujuan forum ini. Ada Tina Harun Kabier (putra Pahlawan Nasional Harun Kabier yang gugur ditembak Belanda) yang dengan nada keibuan mengatakan, “Forum ini merupakan suatu rekonsiliasi tanpa berbicara siapa yang salah, siapa yang benar. Ada semangat batiniah yang disebut unspoken apology yaitu permintaan maaf yang tidak dikatakan atau tidak diungkapkan, karena adanya rasa kasih sayang satu sama lain disebabkan latar belakang yang sama.

Kita ini adalah anak-anak yang kehilangan masa kecilnya, kehilangan masa remajanya karena pilihan hidup bapak kita yang terlibat konflik dan harus gugur di ujung peluru. Saya rasa kita adalah kumpulan the Children of War.”

Ada Tatto S. Pradjamanggala, putra Kolonel TNI Brata Manggala, yang mencontohkan dirinya melawan Bung Karno yang ingin menjadi presiden seumur hidup, maka harus menerima risiko dirinya dipenjara, tapi ia tak benci kepada Bung Karno. “Saya tetap hormat kepada Bung Karno yang pejuang bangsa. Hanya dalam hal Bung Karno ingin jadi presiden seumur hidup, saya tidak sependapat. Begitu juga kebijakan Bung Karno yang memberi kebebasan yang terlalu luas kepada PKI, saya tidak setuju. Tetapi bukan berarti saya membenci orang per orang, PKI,” katanya. Karena sikap objektif itu pula, Tatto mengaku tak sependapat dengan kebijakan pemerintah Orde Baru mengenai “bersih lingkungan”. Menurut Tatto, sangat tidak adil kalau anak-anak dari orangtua mereka yang PKI dihukum dan tidak punya hak hidup di bumi Indonesia, dipersulit mencari nafkah, tidak boleh menjadi pegawai negeri, dan sebagainya. Itu antara lain perbedaan sudut pandang yang tajam antara Angkatan Muda Siliwangi dengan pemerintah dan Golkar pada waktu itu.”

Pendirian Tatto itu muncul, mengingat ia pernah mengalami betapa menderita kehidupan keluarganya ketika bapaknya yang pendukung PRRI juga pernah dipenjara. Ide perdamaian di antara anak-anak korban konflik yang disodorkan adik-adik seperjuangannya diterima dengan tangan terbuka dan didukung sekuat tenaganya.

Sugiarto menghubungi kakak beradik Ilya Arslaan Sjahroezah dan Agustanzil Sjahroezah, putra Pendiri dan Sekjen Partai Sosialis Indonesia (PSI), Djohan Sjahroezah, dan cucu Hadji Agus Salim-Pahlawan Nasional. Ajakan itu diterima oleh Ilya dan Agustanzil.

Tentang partai dan ayahnya, Ilya menceritakan partai sang ayah, PSI di bawah pimpinan Sutan Sjahrir, tak pernah diberikan kesempatan berperan di Negara ini. ”PSI dibubarkan oleh Bung Karno, dianggap musuh revolusi. Sesudah tidak ada PSI, PKI merajalela.

Setelah Bung Karno jatuh, Pak Harto juga tidak memberi kesempatan PSI untuk bangkit,” kata Ilya. Agustanzil yang akrab dipanggil Ibong menambahkan, “PSI dimusuhi oleh PKI dan PNI Asu yang kekiri-kirian. Ketika situasi politik berubah setelah G30S, partai-partai yang dibubarkan Bung Karno seperti PSI dan Masyumi tidak direhabilitasi oleh Pak Harto. Tantangan sudah berbeda lagi.

Muncul konflik-konflik baru. Selalu ada orang-orang PSI yang dijadikan kambing hitam. Masalah-masalah seperti ini tak boleh terjadi lagi di masa depan.” Dengan latar belakang seperti itu Ilya dan Ibong sepakat memberikan dukungan mempertemukan anak cucu korban konflik di masa lalu.

Witaryono Setiadi putra Ir. Setiadi Reksoprodjo, mantan Menteri Penerangan dan Menteri Listrik dan Ketenagaan (Energi) mantan Menteri Penerangan dan Menteri Listrik dan Ketenagaan (Energi), termasuk korban Peristiwa 1965 yang ditahan di tahanan militer Nirbaya selama 12 tahun tanpa proses diadili dan sampai wafat tak pernah menerima pensiun dari dua jabatan menteri yang pernah disandangnya.

Pasca reformasi ada 16 organisasi muncul menghendaki pemerintah melakukan rehabilitasi umum terhadap mantan Tapol dan anak cucunya yang pada akhir tahun 2002 berkoordinasi menjadi “Forum Komunikasi Tim-Tim Advokasi dan Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Peristiwa 1965” yang bertujuan mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung, secara kompak dan serentak. Witaryono ditunjuk menjadi Koordinator. Dengan adanya ide berdamai dengan semua pihak yang dulunya pernah berkonflik, ia langsung melebur.

Masuknya Svetlana Nyoto, Poppy Aidit, Neny Hartono, Catherine Panjaitan, bukan sekedar melengkapi forum ini dengan keterlibatan mereka sebagai anak korban konflik tetapi juga sebagai perempuan yang peduli terhadap ide silaturahmi.

Begitu pula Gusti Ayu Made Sadrinimanik yang setelah mengikuti dua kali pertemuan dapat menyimpulkan bahwa ternyata organisasi ini memang bukan untuk tujuan politik praktis. “Saya sendiri tidak mewakili kelompok mana pun. Saya mewakili masyarakat Indonesia biasa saja.”

 

Impossible Dream

Pada hari Minggu tanggal 6 April 2003 Suryo Susilo menyelenggarakan pertemuan di Restoran Pulo Dua, Senayan, yang terbilang besar karena pesertanya bertambah. Sebut saja Bambang Indartono (alumni Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa, Moskow), Ruth Indiah Rahayu Kalyanamitra (aktivis Women Communication & Information Centre), Nehemia Lawalata (mantan Sekjen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia).

Suryo Susilo juga mengajak Yap Hong Gie, putra advokat dan pejuang HAM Mr. Yap Thiam Hien yang pernah dipenjara pada masa pemerintahan Orde Baru karena dituduh terlibat Peristiwa Malari 1974.  Hong Gie duduk bersama Sarjono Kartosuwiryo dan Sugiarto Supardjo. Ia mengungkapkan perasaannya ketika itu, “Saya merasa kaget dan aneh masuk dalam pertemuan anak-anak yang menjadi korban konflik politik itu. Lebih jauh lagi perasaan saya yang timbul adalah keingintahuan, penasaran, sampai sejauh mana dan sedalam apa kelompok ini bisa duduk bersama, bisa bersahabat, dan berdamai. Saya tidak percaya!”

Rasa penasaran itulah yang mendorong Hong Gie terus mengikuti pertemuan demi pertemuan untuk mendalami apa yang ada di dalam pikiran mereka, apa yang pernah mereka rasakan, dan apa yang mereka cita-citakan. Akhirnya ia percaya dan menulis pengalamannya itu di milis dengan judul ”Imposible Dream” yang mendapat respons positif dari seluruh dunia.

Keberadaan Hong Gie dalam forum ini menarik hati Chalid Prawiranegara, putra Sjafruddin Prawiranegara, Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan tokoh PRRI. Ia mengaku mengalami diskriminasi yang tak tanggung-tanggung dari pemerintah yang sedang berkuasa. “Pada tahun 1962 saya dapat diterima di SMA kalau tidak mencantumkan nama Ayah saya; maka dicantumkanlah nama Ibu, sehingga kemudian pada ijazah saya tercantum nama Ibu saya Ny. Tk. Halimah,” ungkap Chalid. ”Meskipun terlambat hadir, Insya Allah saya bersungguh hati dalam mendukung forum silaturahmi ini,” katanya.

Martinus Johan Mosi, salah seorang korban kebrutalan Tragedi 12 Mei 1998, masuk juga di sini. “Meskipun saya bukan anak tokoh politik, pengalaman hidup saya yang menyandang triple minority sebagai etnis Cina, Katolik, dan idealis, saya kira dapat memberikan manfaat buat saya pribadi maupun teman-teman di forum ini,” katanya. Menurut Martinus, motto dan semangat forum inilah yang membuat dia tertarik bergabung. Selain tujuan dan cara kerjanya amat nyata, forum informal dengan kata kunci ”silaturahmi” ini sangat masuk akal dan membantu secara nyata masalah yang sedang dihadapi bangsa yakni persatuan dari segenap komponen bangsa.

Selain Martinus, orang yang merasa terpanggil bergabung dengan forum ini adalah Batara R. Hutagalung, putra alm. Letkol TNI Dr. Wiliater Hutagalung, mantan Kwartier-Meestergeneral Staf Q TNI 1949-1950. Batara memilih melawan pemerintah Orde Baru yang dilakukannya selama menjadi mahasiswa di Jerman Barat.  Perlawanannya terhadap pemerintah Orde Baru yang dinilainya militeristik dan otoriter disuarakan di berbagai diskusi dan seminar maupun melalui tulisan.

Ada pula Faisal Saleh, Sekjen PPM selama kepemimpinan Djoko Purwongemboro, dan Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias), yang juga pernah menjadi anggota DPR. Mengenai keberadaan forum ini yang dikatakan forum yang aneh oleh beberapa pihak, ia menjelaskan bahwa forum ini wajar karena semuanya adalah warga negara. Ia tidak melihat adanya keanehan walaupun di sini ada keturunan ini dan keturunan itu. Menurutnya justru kalau bangsa ini tidak mau bersatu, barulah ini bangsa yang aneh. Kalau kita bersatu memang itulah sebuah bangsa. Dari PPM juga ada Robert Siahaan, putra Letnan SH Siahaan, perwira kesehatan militer yang pernah menjadi kepala rumah sakit di beberapa wilayah di Aceh serta anggota DPRD.

 

Momentum yang Pas

Puzzle yang terserak perlahan mulai terkumpul membentuk sebuah gambar yang lebih jelas. Hari bersejarah itu terjadi pada tanggal 25 Mei 2003, 10 tahun lalu. Yang hadir pada momen bersejarah ini, dikutip berdasarkan daftar hadir, adalah: Agus Widjojo dan Nani Nurrachman (putra-putri Mayjen TNI (anumerta) Sutojo Siswomihardjo), Amelia, Juwik, Yuni (putri Jenderal TNI (anumerta) Ahmad Yani), Masya Panjaitan (putri Mayjen (anumerta) DI Panjaitan), Riri Haryono (putra Mayjen (anumerta) MT Haryono), Sugiarto Supardjo (putra alm. Brigjen Supardjo), Tatto S.Pradjamanggala (putra alm. Kolonel Brata Manggala/putra Kobra/Puskav), Sarjono (putra alm. Kartosuwiryo Imam Besar DI/TII), Dadeng Adi Karna (putra alm. Wiranagapati Panglima DI/TII), Jaya Senjaya (putra alm. Senjaya Panglima DI/TII), Ahmad Zahedi (putra alm. Brigjen Moehammadiyah Haji bin Tengku Hajidigaroet/cucu alm. Daud Beureuh), Ghazi Hussien-Yoesoef (putra mantan Panglima TNI Divisi X Sumut Hoesein Yusuf), Ilya Arslaan (putra alm. Johan Sjahroezah Sekjen PSI/cucu alm. H. Agus Salim), M. Basyir (cucu alm. HOS Tjokroaminoto), Gurmilang Kartasasmita (eksponen Malari 1974), Soedarso (dari PPM/mantan Kepala Dinas Kesehatan DKI), Tigor Siregar (pendiri PPM), Tjokro Soeprijanto (putra alm. Mayjen Tjokropranolo/pendiri FKPPI), Eko Tjokrodjoyo (tokoh PMKRI), Ridwan Soerijadi (aktivis Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia/Gerakan Indonesia Bersatu), Hardoyo (mantan Ketua CGMI/Presidium PPMI), Ruth Indiah Rahayu (aktivis Women Communication & Information Centre), Tina Harun Kabier (putra Pahlawan Nasional Harun Kabier), Yap Hong Gie (putra alm. Yap Thiam Hien), Arief Munandar (alumni Moscow), Batara R. Hutagalung (putra alm. Letkol Dr. Wiliater Hutagalung), Soerjadi Hadiwidjojo (mantan Ketua DM ITB 1963), Wageono (putra alm. Dayat, Radio Sandi Rancaekek-Bandung), FX Dedih (putra pejuang), Raymond Tambunan, Wiwien Poespa, Lukman Sriamin (para psikolog), Ashoka Siahaan (putra alm. Mayjen Ricardo Siahaan/aktivis Prometheus), Johny M. Hidayat (Ketua Presidium Barisan Kebangsaan), Suryo Susilo, Robert M. Siahaan, Badriel Johan Sjaaf, Julius KF, Eddy Wibowo (dari PPM).

Pertemuan bersejarah yang memakan waktu 7 (tujuh) jam, sejak pukul 12.00 s/d 17.00 WIB, merupakan momentum yang pas untuk menghasilkan kesepakatan dibentuknya lembaga formal yang diberi nama Forum Silaturahmi Anak Bangsa disingkat FSAB, dan Suryo Susilo diminta untuk menjadi Ketua FSAB.

Suryo Susilo dalam sambutannya menyampaikan, pertemuan Silaturahmi ini untuk menyatukan para saudara dari latar belakang aliran yang tidak ingin NKRI tercabik-cabik, terpecah belah, karena adanya masalah anak bangsa yang perlu diselesaikan secara kekeluargaan.

“Karena yang hadir di sini adalah keluarga bukan pelaku, maka tidak selayaknya bila keluarga yang tadinya tidak saling mengenal jadi bermusuhan, bertikai atas permasalahan orangtuanya. Lebih memprihatinkan lagi bila kemudian muncul dendam politik, dendam keturunan yang berlangsung terus menerus,” kata Suryo yang disambut hangat hadirin.

Sebagai fasilitator, dia menginginkan masyarakat yang mempunyai pandangan sama dapat memulai suatu gerakan moral tanpa seremonial, tanpa kelembagaan formal, namun dapat mewarnai dan diharapkan dapat menjadi embrio serta memberikan arah ke depan, agar bangsa Indonesia tidak perlu tercerai-berai.

Dia juga menyampaikan dialog ini bersifat nonformal, tidak ada kepentingan politik dan tidak ada publikasi, sehingga tidak mengundang wartawan, dan forum silaturahmi menjadi milik bersama.

 

Amelia Yani: “Make peace with the past”

Amelia Yani, anak Pahlawan Revolusi, Jenderal TNI (anumerta) Achmad Yani, korban paling telak dalam Peristiwa G30S, tapi ia pula yang paling dini berdamai dengan mantan Tapol dan keluarganya. Ia merintis sedniri perdamaian dirinya dengan memberdayakan para petani termasuk mantan Tapol tanpa ada perbedaan, untuk memelihara ulat sutera yang makanannya daun murbei. Mereka tidak tahu siapa Amelia yang juga tidak memperkenalkan diri sebagai anak Pahlawan Revolusi. Hubungan mereka baik-baik saja, dan setelah tahu pun tidak ada persoalan. “Ketika itu banyak pihak masih bimbang, ada yang sudah menerima ada yang belum menerima mantan Tapol.”

Padahal ketika peristiwa G30S itu terjadi, rata-rata putra-putri Pahlawan Revolusi sulit menerima. Mereka terguncang. Amelia pun menjalani perawatan kejiwaan selama tiga bulan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Tapi ia tak mendendam. “Tak ada benci dan dendam dalam diri saya, karena saya sudah menerima kejadian itu sebagai bagian dari hidup saya, dan berharap bisa berdamai,” tegas Amelia. Tak heran Amelia menjadi pendukung terdepan ketika ide FSAB digulirkan, lalu menjadi ikon perdamaian bersama Ilham Aidit, anak tokoh PKI DN Aidit. Anak Achmad Yani dan anak DN Aidit diberitakan berdamai, “ini baru berita”. Kata Amelia penuh empati, “Trauma itu juga dialami Ilham Aidit yang bertahun tahun tak berani menggunakan nama ayahnya demibertahan hidup. Atau Perry Omar Dani yang harus menyaksikan ayahnya dipenjara selama 30 tahun.”

Hal yang menakjubkan terjadi tatkala Amelia Yani berbincang dengan Sugiarto. Dalam suatu pembicaraan Amelia awalnya agak keras terhadap Sugiarto yang sedang menjelaskan tentang siapa dan bagaimana ayahnya.

Kata Sugiarto, “Ayah saya tidak seperti yang digambarkan dalam film G30S itu….” Amelia menukas, “Jadi, bagaimana dong Ayah anda?!”

“Ayah saya di film itu merokok terus klepas klepus…padahal ayah saya samasekali tidak merokok,” jawab Sugiarto. “Oh begitu?” Amelia tertarik. “Ayah anda di mana sekarang?” tanya Amelia polos.Sugiarto tertegun sejenak, heran dan bingung mendengar pertanyaan Amelia.

Jawabnya pedih, “Kan sudah divonis mati dan langsung dieksekusi.” Amelia kaget bukan main. Dia benar-benar baru tahu sekarang. “Oh, maaf, saya tidak tahu,” seru Amelia getir dan langsung memeluk Sugiarto dengan amat terharu.

Mereka berpelukan seperti halnya dua sahabat lama yang lama tidak bertemu. Forum ini telah mempertemukan anak-anak manusia yang selama Puluhan tahun divonis oleh sejarah sebagai pihak-pihak yang berlawanan atau bermusuhan. Hari ini mereka terlahir kembali sebagai anak-anak bangsa yang dilahirkan dari kandungan ibu yang sama, Ibu Pertiwi, saling mengasihi.

 

Setelah Undangan Keenam

Kepada Ir. Ilham Aidit, putra DN Aidit Ketua CC PKI, dikirimkan undangan demi undangan yang mengajaknya bergabung. Lima tahun sebelum forum diresmikan berdirinya, Ilham masih tinggal di Bali. Ketika pertama kali ada undangan datang ke rumahnya yang isinya mengajak bergabung dengan anak-anak Pahlawan Revolusi dan anak-anak tokoh lain, Ilham berpikir, “Forum apa ini? Untuk apa? Tidak jelas.”  Kalau mengenai rekonsiliasi, ia berprinsip bahwa rekonsiliasi tidak akan pernah ada dalam kamusnya karena sudah begitu banyak korban, dan begitu banyak luka di hati mereka, jadi tidak ada kata rekonsiliasi.

Dua tahun Ilham merenung sampai ia membaca di koran Tempo berita tentang pertemuan FSAB yang diadakan di Restoran Pulo Dua, Senayan. Ilham mulai mencari tahu, forum itu dibentuk untuk apa, diminati oleh siapa saja. Ketika datang undangan yang keempat kali, Ilham mulai mengakui, memang benar, kalau sebuah negara terus diguncang oleh konflik yang tidak pernah selesai, maka bisa jadi negara itu akan terlambat berkembang. Bersamaan dengan itu Ilham memperoleh wacana tentang konsep KKR dari kawan-kawannya di LSM, bahkan mereka mengajak Ilham membuat dua kali seminar mengenai KKR di Bali. Ringkasnya Ilham menjadi cukup terbuka untuk tidak bersikap terlalu keras, dan bisa menerima perdamaian, menerima rekonsiliasi. Kira-kira tiga tahun sebelumnya, Hardoyo dan Arief Moenandar juga mengimbau Ilham, “Bagaimana kalau anda setelah sekian lama tidak menggubris undangan FSAB, sekarang mencoba hadir saja dulu, karena ini forum silaturahmi.”

Ilham mengenang saat-saat penting dalam hidupnya itu dengan kata-kata, “Saya terhentak ketika sadar betul bahwa forum ini forum silaturahmi, jadi siapapun bisa hadir, siapapun bahkan diwajibkan hadir kalau memang dia diminta untuk melakukan silaturahmi. Kalau saya diundang untuk datang sebaiknya saya hadir. Ketika itu saya sudah memperoleh undangan yang keenam untuk menghadiri peresmian dan peluncuran Forum Silaturahmi Anak Bangsa di Hotel Indonesia pada hari Rabu, 22 Oktober 2003, dan saya berniat datang. Saya sekali lagi sadar betul saat itu, oh iya, forum ini adalah forum silaturahmi anak bangsa.”

 

Ikrar Anak Bangsa

Ilham Aidit menceritakan pengalamannya pula yang dinilainya sangat kontroversial. “Jujur saja, pada awalnya saya seperti bertarung sendirian. Saya masuk FSAB penuh dengan kritik, lebih-lebih ketika halaman depan koran Kompas memberitakan hadirnya saya dalam ”Ikrar Anak Bangsa” tanggal 5 Maret 2004 beserta foto saya bergandengan tangan dengan anak-anak Pahlawan Revolusi. Pedas, tajam, dan dasyat sekali kritik-kritik yang saya terima. Tapi inilah tugas dan tanggung jawab saya untuk meyakinkan ribuan orang penghuni gerbong kami agar mau menerima wacana rekonsiliasi dengan jiwa besar dan pikiran terbuka. Hasilnya luar biasa, mereka yang tadinya tidak percaya terhadap rekonsiliasi sampai berharap dibentuknya KKR yang dapat bekerja dengan baik.”

Awalnya hanya sebuah mimpi. “Impossible Dream,” kata Yap Hong Gie.

“Mimpi seorang utopis,” kata Tina Harun Kabier.

“Seperti menatah sebongkah kue panas (hot cake), cukup mempunyai risiko tinggi dan sangat riskan untuk dijamah,” kata Tatto S. Pradjamanggala.

 

Tidak Mudah dan Kontroversial

Sebelum resmi dibentuk sampai selama pembentukannya, para Pemrakarsa FSAB melakukan anjangsana kepada mantan Presiden RI Ke-3 B.J. Habibie, Presiden RI Ke-4 Abdurrahman Wahid Presiden RI Ke-4 dan Wakil Presiden RI Megawati Sukarnoputri.

Pada masa pemerintahan Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri, surat mengenai pembentukan FSAB dilayangkan kepada Kepala BIN, Jenderal TNI (Pur) AM Hendropriyono yang kemudian menerima pengurus FSAB. Terjadi dialog yang akrab dan terbuka antara Hendropriyono dan jajarannya dengan para pengurus FSAB. Pada pokoknya Hendropriyono memberikan dukungan penuh, “Saya kagum bahwa anak-anak yang dahulu orangtuanya terlibat konflik, sekarang dapat duduk bersama dan membentuk organisasi dengan motto “berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru”. Saya mengharapkan FSAB dapat menjadi isnpirasi bagi masyarakat yang saat ini rawan konflik dengan menyebarkan semangat bersilaturahmi dan berdialog menghadapi perbedaan dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945.” Para tokoh nasional lainnya juga memberikan respons positif seperti, Adnan Buyung Nasution, Harry Tjan Silalahi, Ahmad Syafii Maarif, KH Salahuddin Wahid, Sidarto Danusubroto, Sulastomo, Asvi Warman Adam, dan lain-lain.

Dengan disuarakannya “Ikrar Anak bangsa” dan foto bergandengan tangan antara anak-anak Pahlawan Revolusi dengan anak-anak mereka yang selama ini dikategorikan pemberontak yang dimuat koran Kompas pada 5 Maret 2004 di Hotel Hilton, anak-anak Pahlawan Revolusi yang berada di FSAB dipanggil oleh Ryamizard Ryacudu yang sudah diangkat menjadi KSAD. Masya Panjaitan sebagai juru bicara berusaha menjelaskan kepada Ryamizard mengenai ide FSAB yang menurutnya sangat bagus.

Tanggapan secara serius dilontarkan lagi oleh Letjen Ryamizard Ryacudu tak lama setelah ia diangkat menjadi Pangkostrad, Joesoef Faisal dan Djoko Purwongemboro dipanggil dan ditanya dengan nada cukup keras, “Kalian membikin apa dengan forum ini?!”  Joesoef dan Djoko mengklarifikasi dengan memberikan penjelasan secara lengkap dan mendalam mengenai keberadaan FSAB, “Jadi Pak, bibit-bibit konflik seperti itu bisa diredam. Kami tidak mengadopsi paham PKI atau paham DI/TII, tapi rasa dendam ini yang kami hentikan. Jangan sampai konflik menjadi warisan turun temurun yang akhirnya menjadi perpecahan bangsa,” tandas mereka. Ryamizard ternyata menyambut gembira dengan mengatakan, “Wah, itu bagus, gerakan moral, saya dukung. Memang harus hati-hati, karena pers bisa memelintir. Maksud kalian baik, tapi karena tafsir pers yang tidak bagus bisa dipelintir-pelintir.” Begitulah pesan Ryamizard.

Akhirnya Ryamizard dan para petinggi TNI lainnya bisa mengerti, dengan imbauan, “Jangan terlalu aktif …jangan terlalu cepat…karena tidak setiap orang bisa mencerna hal ini… pelan-pelan saja.”

Setelah berkali-kali melakukan pendekatan dengan para petinggi TNI, pengurus FSAB akhirnya diundang oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Hotmangaraja Panjaitan dalam suatu acara formal yaitu pertemuan dengan para wartawan, di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jl. Veteran, Jakarta Pusat. Hotmangaraja Panjaitan adalah putra Pahlawan Revolusi Mayjen (anumerta) D.I. Panjaitan, dan abang dari Masya Panjaitan, salah seorang pendiri FSAB.

Menurut Suryo sebelumnya Hotma Panjaitan juga serupa dengan para petinggi TNI yang lain, mempertanyakan niat dan tujuan dibentuknya FSAB. Setelah memperoleh keterangan yang jelas Kadispenad ini akhirnya melayangkan undangan kepada pengurus FSAB untuk diperkenalkan kepada para wartawan. Di hadapan para wartawan itu, Hotma Panjaitan menjelaskan mengenai garis besar keberadaan FSAB, bahwa FSAB dapat menjadi katalisator dari sikap-sikap ekstrim berbagai pihak supaya tidak bertambah ekstrim. Penerimaan Kadispenad Brigjen Hotmangaraja Panjaitan boleh dibilang merupakan puncak penerimaan yang formal dari TNI terhadap keberadaan FSAB.

Menurut pengalaman Nani Nurrachman, dalam hal menjelaskan keberadaannya di FSAB kepada keluarga dan lingkungan pergaulan, itu tak mudah. Masing-masing orang membutuhkan kebijaksanaan ekstra dalam menjelaskan keberadaan mereka di FSAB kepada pihak-pihak yang berkaitan sangat erat, yaitu keluarga dan lingkungan pergaulan. Ada yang keheranan dan mengatakan, “Kok bisa sih?!” Ada yang berpesan, “Hati-hati lho!” Ada juga yang terkejut, “Mana mungkin?! Tapi kenyataannya bisa. Apa resepnya? Mereka bertanya-tanya.

Begitu pula Joesoef Faisal mengalami tanggapan bermacam-macam dari keluarga dan adik-adiknya. “Ada yang kaget, ada yang menyatakan ketidak setujuan, ada yang bilang “apa-apaan sih!” Dari keluarga yang lebih besar lagi yaitu PPM, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, begitu pula dari keluarga besar ABRI. Kekhawatiran memang selalu ada dari pihak-pihak tersebut. Saya dianggap merangkul PKI dan dipertanyakan apakah akan menjadi PKI? Saya jelaskan kepada mereka, keberadaan saya di FSAB bukan untuk kepentingan pribadi atau saya tertarik pada ideologi komunis atau DI/TII, atau yang lainnya. Ideologi saya adalah Pancasila. Kita tidak cocok dengan ideology komunis.

 

Motto FSAB Lebih Besar dari Motto Mandela

Dalam peringatan HUT ke-7 FSAB, Taufiq Kiemas mengatakan: ”Melalui FSAB, rekonsiliasi para keluarga yang orangtuanya terlibat konflik politik, baik peristiwa G30S maupun DI/TII, sudah bisa diwujudkan. Tidak ada konflik politik di Indonesia yang sebesar ini, tapi para keluarganya sekarang sudah saling bahu-membahu demi komitmen NKRI. Ini harus kita jaga dan kita bangun terus agar semangat seperti ini terus ada. Rekonsiliasi itu sudah membuktikan bahwa Indonesia sebagai negara bisa mengamalkan pilarnya, yakni Bhineka Tunggal Ika.

Semua komponen bangsa harus menyadari dan memahami bahwa Indonesia adalah negara yang penuh dengan keragaman baik dari segi suku, agama, maupun ideologi. Karena itu, ketika dalam suatu masa ada konflik ideologi, maka keturunannya tidak boleh mewariskan konflik itu demi menjaga pilar Negara lainnya, yakni NKRI. Apalagi adanya perbedaan itu memang dilindungi oleh UUD 1945 dan Pancasila.

Menurut Taufik Kiemas, Motto FSAB “berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru” lebih besar dari “to forgive but not forget” Nelson Mandela. Karena “to forgive but not forget”-nya Mandela hanya antara 2 pihak yang berkonflik, dan sekarang masih “terancam” konflik baru. Tapi spirit FSAB “berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru” adalah antara berbagai pihak, karena multi konflik. Biasanya pula bila dua pihak berkonflik, pihak yang kalah akan melakukan balas dendam dan keinginan membalas dendam itu diteruskan kepada anak cucu sedangkan di FSAB malah anak-anak dari pihak yang berkonflik berinisiatif dan bertekad untuk tidak mewariskan konflik.

Dan ada semangat untuk tidak melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan timbulnya konflik baru. Spirit FSAB tidak saja perlu ditularkan Ke seluruh bangsa Indonesia, tetapi bahkan ke seluruh dunia.

Ketika Tommy Soeharto dan Sukmawati Soekarno Satu Panggung

Amelia Yani berdiri di atas podium. Dengan lantang, puteri Jenderal (anumerta) Ahmad Yani ini menyampaikan sambutannya kepada sekitar 500 undangan yang memadati Ruang Nusantara V Gedung MPR RI dalam acara Silaturahmi Nasional 2010. “Saya tidak pernah melupakan peristiwa penculikan dan pembunuhan ayah yang terjadi di depan mata dan mengalami trauma berkepanjangan.

Meski kejadian 45 tahun lalu, itu masih membekas. Tapi saya sudah tidak memiliki dendam lagi dan tidak ingin kesalahan orangtua diturunkan kepada anak-cucu. Sejak peristiwa G30S tahun 1965 itu pun, pembunuhan terhadap sesama anak bangsa terus terjadi, ratusan ribu terbunuh. Sebagian dari kami adalah anak yang kehilangan orangtua dan untuk melupakannya tidak mungkin,” kata Amelia.

Menurut Amelia, FSAB menjadi bukti bahwa tidak ada lagi pertentangan antara keluarga korban dengan keluarga para pelaku. Sejak tahun 2003, FSAB terus berusaha mengumpulkan para keluarga korban dan keluarga pelaku dari berbagai peristiwa konflik bersejarah di Indonesia.

“Kami anak-anak bangsa, mencintai bangsa ini. Sebagai bangsa yang besar tentu kita juga harus bisa membuka pintu maaf kepada anak-anak bangsanya. Bisa saling memahami dan berdamai. Kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada lagi permusuhan, semua ingin menatap ke depan sehingga bisa hidup bersama di rumah besar bangsa Indonesia,” tutur Amelia.

Acara “Silaturahmi Nasional Anak Bangsa 2010” bukanlah silaturahmi biasa. Setelah tujuh tahun melalui proses panjang satu meja, duduk bersama dalam perbedaan, forum ini menghadirkan putera puteri mantan Presiden Soekarno dan Soeharto yakni Sukmawati Sukarnoputri dan Hutomo Mandala Putra.

Mereka yang menyampaikan kesaksian dalam acara itu antara lain Catherine Panjaitan (putri Mayjen TNI (anumerta) D.I. Panjaitan), Ilham Aidit, Perry Omar Dani, Sarjono Kartosuwiryo, Cosmas Batubara (eksponen Angkatan ‘66), perwakilan dari Pulau Buru, Tri Chandra (Majelis Syarikat Indonesia), Sukmawati Sukarnoputri, dan Hutomo Mandala Putra.

 

Sebagai Model Rekonsiliasi Indonesia

Menurut Batara R. Hutagalung apa yang dilakukan FSAB selama ini bisa menjadi model nasional, termasuk mengarah pada rekonsiliasi nasional. Lebih jelasnya kata Batara, “Kita mengenal di dunia luar ada rekonsiliasi model Afrika Selatan, rekonsiliasi model Korea Selatan, juga di Amerika Selatan seperti Chili dan Argentina. Kita harus mengembangkan model rekonsiliasi Indonesia. Karena tidak mungkin kita menjiplak dari negara-negara lain, yang jelas latar belakang masalahnya berbeda-beda. Sebab itu kita harus menciptakannya. Saya sudah melihat model FSAB mungkin yang paling cocok untuk diterapkan di seluruh Indonesia.

Kata Amelia Yani, ”Apa yang telah kami lakukan, yaitu “Ikrar Anak Bangsa” di Hotel Hilton pada tanggal 5 Maret 2004, itu momen yang terbaik. Itulah yang disebut rekonsiliasi. Sebetulnya tinggal merumuskan saja.”

Suryo Susilo mengungkapkan kenyataan mengenai warga FSAB yang masih terbelah dua, pertama adalah kelompok yang berpendapat bahwa rekonsilisiasi hanya akan membuka luka lama, di antaranya karena rekonsiliasi harus memenuhi kebutuhan dari elemen pencarian kebenaran. Sebab itu FSAB cukup berhenti pada bentuk silaturahmi agar tidak membangunkan  macan tidur membuka luka lama.

Kelompok kedua adalah kelompok yang mengadvokasi pencapaian proses tuntas hingga rekonsiliasi. Kelompok ini berpendapat bahwa berhenti pada tahap silaturahmi dan menjaga status quo hanya merupakan wujud perdamaian dan penyelesaian semu karena di bawah permukaan tidak pernah ada penyelesaian terhadap mitos korban atau penindas, yang dalam proses menjadi pembenaran dalam opini publik, tanpa mendapat kesempatan untuk dicari pembuktiannya, betapapun relatif hal tersebut, melalui klarifikasi pihak-pihak terkait.

Karena tidak pernah mendapat klarifikasi tentang apa yang terjadi, masyarakat dan bangsa ini tidak pernah dapat menarik pelajaran tentang kesalahan apa yang telah kita lakukan dan menyebabkan terjadinya tindak kekerasan nasional, bagaimana cara mengatasinya untuk mengisi kebutuhan komponen reformasi kelembagaan, supaya kita dapat menjaga agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Masih banyak cerita menarik yang bisa dibaca pada buku ”The Children of War”. Namun harus sedikit bersabar, karena buku ini baru beredar pada akhir Juni 2013.

——-

 

Jakarta, 25 Mei 2013

 

 

IKRAR ANAK BANGSA

 

KAMI BANGSA INDONESIA YANG TERGABUNG DALAM FORUM SILATURAHMI ANAK BANGSA, BER-IKRAR:

  1. MENGHARGAI KESETARAAN SEGENAP WARGA NEGARA INDONESIA.
  2. MENGHORMATI HAK ASASI DAN PERBEDAAN SETIAP WARGA NEGARA DALAM KEHIDUPAN BERSAMA SEBAGAI BANGSA INDONESIA.
  3. BERSIKAP TIDAK MEWARISKAN KONFLIK DAN TIDAK MEMBUAT KONFLIK BARU.

 

JAKARTA, 5 MARET 2004

 

ttd.

 

FORUM SILATURAHMI ANAK BANGSA

 

__________________________________________

 

PERNYATAAN BERSAMA SILATURAHMI NASIONAL ANAK BANGSA

 

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa

 

Kami menyatakan:

 

  1. Memegang teguh dan mengamalkan secara utuh dan konsekuen Pancasila sebagai satu-satunya Ideologi Negara.

 

  1. Menjunjung tinggi Konstitusi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

 

  1. Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

  1. Menerima keberagaman dalam bingkai “Bhinneka Tunggal Ika”.

 

  1. Menanggalkan sikap-sikap yang dapat memicu konflik, yang mengakibatkan perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi.  Amin.

 

Jakarta 1 Oktober 2010

 

 

 

 

ttd.

 

FORUM SILATURAHMI ANAK BANGSA DAN

 

PESERTA SILATURAHMI NASIONAL ANAK BANGSA

 

___________________________________________

 

 

 

 

KUTIPAN DARI KOMENTAR BEBERAPA TOKOH MASYARAKAT TERHADAP FORUM SILATURAHMI ANAK BANGSA

 

Motto FSAB “Berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru” lebih besar dari “To forgive but not forget”nya Nelson Mandela. Karena konflik di Afrika Selatan hanya antara 2 pihak, sedangkan di Indonesia antara berbagai pihak atau multi konflik.” Taufiq Kiemas

 

”Saya mengharapkan FSAB dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang saat ini rawan konflik dengan menyebarkan semangat bersilaturahmi dan berdialog menghadapi perbedaan dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945.” AM. Hendropriyono.

 

“Bagi saya lahirnya FSAB menjadi penting bila dilihat dari perspektif upaya rekonsiliasi bangsa yang justru datang dari bawah. Mudah-mudahan sama-sama dilandasi oleh niat tulus untuk memaafkan masa lampau, sekalipun tidak perlu selalu dilupakan.” Ahmad Syafii Maarif

 

“Upaya mewujudkan rekonsiliasi bisa lebih berarti dengan adanya FSAB yang di dalamnya terdiri dari putra-putri para tokoh yang selama ini berkonflik. Bersatu dan bekerjasamanya mereka diharapkan bisa menghilangkan saling curiga yang bisa menjadi awal yang baik bagi bangsa ke depan”. Salahuddin Wahid

 

“Hal yang mereka lakukan ini menjadi penting, yakni membuka pemahaman yang lebih luhur dan mulia mengenai hak asasi manusia. Kalau dulu orangtua kita membuat kesalahan atau kekhilafan, bahkan konflik yang menimbulkan permusuhan dan peperangan, sekarang sudah harus dibentuk suatu kehidupan politik di mana pendirian apapun yang dianut oleh anak bangsa ini, tetap harus mengedepankan saling menghormati, jangan lagi yang satu mengeliminir yang lain, apalagi sampai membunuh”. Adnan Buyung Nasution

 

“Langkah anak-anak eks Darul Islam, anak-anak Pahlawan Revolusi, dan juga anak-anak eks PKI ang berhimpun dalam satu organisasi merupakan pendekatan budaya penyelesaian pelanggaran HAM yang dipelopori anak-anak kita. Dengan pendekatan budaya seperti ini dendam di antara sesama warga bangsa dengan sendirinya terkubur. Sebaliknya, minta maaf pada salah satu golongan saja lebih politis sehingga masih menginggalkan implikasi politik. Pendekatan budaya justru akan lebih memperkukuh upaya rekonsilisasi nasional”. Sulastomo

 

“Pengalaman cairnya kelompok-kelompok orang-orang muda ini untuk bergabung dalam satu panguyuban FSAB dapat dijadikan sebagai suatu sumbangan konsep rekonsiliasi untuk mengatasi masalah tersebut, meskipun masih perlu lebih giat disosialisasikan agar dapat segera diaktualisasikan”. Harry Tjan Silalahi .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *